Cerita Hot
Jan15

Cerita Hot Rintihan Kalbu

cerita hot

cerita hot

Suara gemuruh dari TV yang
telah habis menayangkan
programnya membuatku
terjaga dari tidur di sofa. ku
lirik jam di dinding telah
menunjukkan hampir puku l 2
dini hari. ku tarik nafas panjang
untuk menghilangkan rasa
sesak di dada, 2 bulan sudah
berlalu sejak kepergiaan
istriku .
ku padamkan lampu-lampu yang
tidak perlu lalu perlahan ku
buka pintu kamar anak-anakku
tercinta, nampak mereka sudah
tertidur dan ku lihat Lily juga
tertidur di samping anak-
anakku. Perlahan ku bangunkan
dia, “Ly.., Ly..,” panggilku
perlahan untuk tidak
membuatnya terkejut.
“Hghh..,” sahutnya perlahan
seraya membuka matanya yang
masih mengantuk.
“Pindah ke kamar depan dech,
suamimu mungkin tidak
menjemput malam ini,” ujarku
berbisik.
“Oh..,” sahutnya sejurus
kemudian dan keluar dari balik
selimut.Cewek Sexy Bugil
Tampak Lily telah mengenakan
daster yang cuku p tipis
sehingga nampak leku kan
tubuhnya yang seksi, belahan
buah dadanya juga putingnya
oleh karena dia tidak
menggunakan bra, dan celana
dalamnya berwarna pink
dengan gambar doraemon di
bagian pantatnya, yang sempat
ku lihat sebelum ia menghilang
di balik pintu. ku kecup pipi
kedua anakku sendiri sebelum
ku rapatkan kembali pintunya
dan pergi ke kamarku sendiri
untuk beristirahat dan kerja
kembali esok hari karena cuku
p banyak juga pekerjaan yang
tertinggal selama ini.
Subuh ku terbangun oleh
deringan jam meja yang telah
ku persiapkan malam
sebelumnya, mandi pagi dengan
air dingin membuatku segar dan
siap untuk bekerja.
“Bagaimana? Sudah kau
pikirkan?” tanya suara lembut
itu yang sangat ku kenal.
“Bu..,” sahut Lily putus di
tengah jalan
“Yach.. Mas Elmo masih muda,
mungkin suatu saat dia akan
mencari pengganti Linda
almarhum kakakmu itu, kalau
sudah begitu apakah “bu masih
diijinkan tinggal di sini?” keluh
“bu sejurus kemudian
“Tapi Bu,” Lily berusaha
membantah perkataan “bu
“Yach.. “bu pikir daripada kamu
di sana di sia-sia lebih baik
lepaskan Mas “ndramu itu,
mungkin Mas Elmo akan ijinkan
“bu tinggal di sini, tapi apakah
calonnya akan mengijinkan
juga?” masih tetap dengan
suara lembut yang membujuk.
“Bagaimana dengan Ricky Bu?”
tanya Lily lirih.
“Anakmu itu sudah cacat, kamu
ya harus berpikir untuk
kebaikannya bukan untuk
dirimu sendiri, “bu rasa mungkin
dia akan lebih berbahagia
bilamana di tempatkan di panti
asuhan oleh karena bisa
bermain dengan teman-teman
senasibnya. Justru dia akan
menderita kalau kamu paksa
untuk bergaul dengan anak-
anak normal lainnya,” saran “bu
melanjutkan
Hening kemudian hanya denting
piring yang beradu dengan
sendok yang sedang
dipersiapkan oleh “bu mertuaku
dan Lily putri bungsunya.
“Seandainya kau bisa memiliki
Mas Elmo, kita masih bisa tinggal
di sini bila tidak “bu tak tahu
kita harus kemana lagi?” keluh
“bu.
“Bu..,” hanya itu ucapan Lily
terputus ketika tiba-tiba..
“Good morning, Pa,” teriak
Shanti anakku yang paling kecil
dari atas tangga menyapaku
yang sedang terdiam di tangga
mendengarkan percakapan tadi
yang berasal dari ruang makan.
“Good morning honey,” sapaku
pula seraya melanjutkan
langkahku menuruni tangga.
“Hi.. Shanti,” sapa Lily seraya
menunjukkan wajahnya dari
pintu ruang makan.
“Hi.. aku mandinya nanti yach,”
ujarnya seraya kembali ke
kamarnya terburu-buru.
“Eehh.. kakak mana?” Lily
bertanya dengan nada yang
cuku p keras.
“Masih bobo..,” terdengar
balasan dari balik pintu kamar
tidur.
“Pagi Mas,” sapa Lily sambil
tersenyum manis.
“Pagi juga,”
“Pagi Bu,” sapaku melanjutkan
setelah bertemu dengan “bu di
ruang makan itu.
“Pagi,.. ini nasi goreng buatan
Lyly nich,” promosi “bu
melanjutkan.
“Wah.. terima kasih nich sudah
merepotkan,” ujarku sedikit
berbasa basi.
“Sudah buruan makan.. nanti
keburu dingin jadi nggak enak,
biar “bu bangunkan anak-anak
dulu,” tukas “bu.
Dengan cekatan Lily melayaniku
dengan mengambilkan nasi
goreng tersebut sementara
aku sendiri menyeruput
secangkir teh manis
sebagaimana kebiasaanku sejak
dulu. Di kantor pikiranku juga
masih berkutat dengan
pembicaraan “bu tadi pagi,
sehingga sebenarnya tidak
seluruh pikiranku
terkonsentrasi untuk
pekerjaan. Masih terngiang-
ngiang kemungkinan aku untuk
memperistri Lily.. mungkinkah?
Sore hari saat pulang kerja..
Sementara Lily berlutut untuk
mencapai rak lemari yang paling
bawah, sedangkan aku berdiri
di samping sambil
memperhatikannya. Tanpa
sadar pandanganku tertuju
pada buah dadanya yang
nampak indah dipandang dari
atas tersebut. Nampak jelas
lekukan buah dadanya oleh
karena dia menggunakan kaos
yang longgar sehingga bagian
depannya agak terbuka saat
dia dalam posisi yang sedikit
membungkuk tersebut. Melihat
pemandangan yang demikian
mempesona, penisku terus saja
menegang sehingga
memperlihatkan tonjolannya di
balik handuk yang kukenakan
tersebut.
“Nach ini kaos..,” suaranya
terputus di tengah jalan ketika
dalam posisi berlutut seperti itu
menyerahkan kaos yang
kuminta padaku oleh karena
pandangannya terpaku pada
batanganku yang mengeras di
balik handuk. Kusadari waktu 2
bulan telah berlalu tanpa
hubungan sex tentunya sulit
bagiku, namun tertutup oleh
kesibukanku. Sedangkan
baginya.. dimana Mas “ndra,
suaminya, yang sejak semalam
berjanji untuk menjemputnya,
setelah selama ini Lily membantu
rumah tanggaku yang porak
poranda sejak ditinggal
kepergian almarhum Linda,
istriku yang juga kakak dari
Lily, mengurus anak-anakku,
rumah tangga dan sebagainya.
Lily terdiam dan tertunduk malu
yang bagiku itu adalah isyarat
bahwa dia tidak menolakku,
sehingga kuberanikan diriku
untuk membuka handuk
tersebut sehingga sekarang
tersembullah batangku yang
telah tegak menantang dengan
tubuh telanjang seperti ini,
dimana masih ada tetesan air
yang masih belum mengering,
kuyakin menambah sexy
penampilanku malam itu.
Perlahan kubangunkan Lily dan
segera kukecup keningnya
perlahan turun ke arah pipi dan
menelusuri lehernya. Dengusan
nafas yang memburu membuat
adrenalinku terus meningkat,
kuusap lembut pundaknya,
telinganya, disertai dengan
kecupan hangat yang kulaku
kan dengan sepenuh hati.
“Mas El.. jangan,” pintanya
sesaat sebelum kucoba untuk
melepaskan kaosnya.
“Lily,” gumamku dengan
pandangan mata memohon
sehingga kuyakin sulit baginya
untuk menolakku terlebih deru
birahinya juga terus merayap
keatas ubun-ubun.
Kukulum putingnya yang masih
kecil bak anak gadis,
membuatku gemas.
“Mas.. ergh,” rintihnya perlahan.
Belaian hangat jariku terus
mengusap seluruh permukaan
kulitnya yang putih mulus halus
terawat disertai dengan jilatan
dan pijatan ringan. Perlahan
kudorong Lily sehingga rebah di
kasurku.
“Mas janji jangan dimasukkan
yach.., aku masih milik “ndra,”
rintihnya kembali ketika kucoba
mencopot celana pendeknya.
Ternyata Lily tidak mengenakan
celana dalam di balik celana
pendeknya tersebut sehingga
segera nampak rerumputan
hitam dengan panjang yang
seragam dan terawat dengan
rapih.
“Iya aku janji,” sahutku tanpa
berhenti melepaskan celana
pendeknya tersebut.
Harum bau tubuhnya terus
memompa birahiku namun
perlakuanku tetap saja lembut
dan tidak terburu -buru untuk
membawa Lily menikmati belaian
asmara ini. Jilatan mandi kucing
yang kulancarkan ini membuat
Lily semakin terlena dan pasrah.
Jilatan demi jilatan yang
menyusuri setiap inci
permukaan kulit dadanya, turun
ke lembah buah dadanya, terus
turun menelurusi garis tengah
untuk mencapai kubangan di
tengah pusaran perut,
membuat otot perutnya
tertarik tertahan menahan geli
nikmat yang tidak terkira.
Kulewatkan bagian padang
ilalang hitam di sana, namun
kumulai dari lipatan paha bagian
dalam kanan dan kiri yang
terus menuruni jenjang kakinya
dari bagian dalam hingga
mencapai punggung kakinya dan
berakhir dengan teriakan
tertahan yang disertai
hentakan kakinya, “Akhh..”
Kubalikan tubuhnya dan kini
jilatannya merayap naik dari
bagian tumitnya menelusuri
betis indahnya sedikit ke bagian
dalam, tidak kupaksa untuk
membuka lipatannya namun
terus naik hingga ke punggung
dan berakhir di sekitar
tengkuknya yang mulus,
disertai dengan bulu kuduknya
yang telah berdiri membuatku
semakin gemas, sehingga gigitan
sedikit keras kuberikan
padanya yang menambah
sensasi nikmat, disertai dengan
remasan jemari lentiknya pada
bantal yang sempat diraihnya
untuk berbagi kenikmatan.
Puas bermain di punggungnya
kembali kubalikkan tubuhnya,
sesaat mata kami sempat
beradu pandang, terlihat sayu
tertutup perlahan dan
menggodaku untuk mengecup
lembut bibirnya. Kulumanku
mendapat balasan yang malu-
malu dan segera kuterobos
dengan lidahku untuk mengait
lidahnya sehingga pagutan
lidahku bagaikan aliran listrik
untuk mencetuskan butiran
keringat halus bagaikan
tetesan embun di dahinya.
Perlahan namun pasti sambil
berpagutan tersebut kunaiki
tubuh mungilnya dan Lily
sempat melirik ke kaca yang
ada di lemari pakaian dan jelas
nampak tubuh mungilnya
sekarang berada dibawah
tubuhku yang tinggi besar,
sensasi tersendiri melihat
tubuhku menindih tubuh
mungilnya dimana baru kali ini
dialaminya bahwa seorang pria
yang bukan suaminya tengah
menindihnya dalam keadaan
tubuh yang bugil, telanjang
bulat.
Batanganku yang telah
mengeras tepat berada di atas
perutnya dan ketika seluruh
berat tubuhku telah
menindihnya jelas sekali
kurasakan getaran tubuhnya
laksana menggigil akibat
menahan birahi. Kulumanku
belum kulepaskan dan lidahku
terus bermain dengan lidahnya
dengan respon yang semakin
menggila disertai lenguhan
birahi.
Ketika kulepaskan pagutan liar
itu, segera ku buka lebar
pahanya sehingga jelas terlihat
ilalang hitam di bagian bawah
telah lepek dan tanpa rasa
malu-malu lagi Lily jelas
membentangkan kakinya lebar-
lebar, memberiku jalan untuk
menerobos masuk. Namun tak
kulakukan itu, sebaliknya
perlahan kubuka lipatan
bibirnya sehingga nampak celah
memanjang bagaikan irisan roti
dan diikuti dengan mengalirnya
secara perlahan cairan kental
mirip lem anak SD.
Setelah kujilat 1-2 kali sapuan,
segera kuhisap kuat di antara
celah yang terbuka itu dan
segera kurasakan beberapa cc
cairan kental bening itu
bagaikan benang yang ditarik
dari sumur paling dalam dibetot
keluar, akibatnya..
“Mas..,” lengkingan tinggi Lily
disertai dengan hentakan
berulang kali dari pinggulnya
yang tertarik ke atas dan
kemudian berakhir dengan
kekakuan pada tungkai kakinya
selama beberapa saat dan
berakhir dengan selesainya
hisapanku pada celah
vaginanya.
Kubiarkan Lily yang telah
mencapai orgasme pertamanya,
matanya masih tertutup rapat
tak bergerak menikmati
gulungan birahi yang mulai
mereda menyisakan kelelahan
yang teramat sangat. Sesaat
kemudian belaian jari lentiknya
yang mengusap wajahku
menyadarkanku dari lamunanku.
“Thanks yach.., Mas belum
yach?” tanyanya sendu merasa
bersalah.Janda Binal Bugil Bertatto
Segera kukembangan senyum
manisku yang menusuk kalbu,
“Enak..,” tanyaku suatu
pertanyaan bodoh yang
seharusnya tak perlu
kutanyakan.
Anggukan halus dari Lily
membenarkan pertanyaanku
dan segera kulanjutkan
“Pernah diberikan oleh Mas
“ndra?” selidikku untuk
membandingkan kemampuanku.
Lily meraih penisku dan
mengocoknya perlahan. “Mas
“ndra tidak pernah membelai,
dia lebih suka tembak langsung
dan itu juga nggak lama,
sebentar juga keluar setelah
itu tertidur tapi..,” sahutnya
memutus di tengah jalan.
“Kenapa?” tanyaku penasaran.
“Kalo besar sich lebih besar Mas
“ndra, jadi tiap kali sakit
sesudahnya. Mungkin kurang
foreplay kali yach,” sahutnya
untuk memberikan alasan.
“Oh..,” sahutku yang yakin
bahwa apa yang kuberikan
pasti lebih berkesan
dibandingkan dengan “ndra
suaminya.
Buliran keringat halus di
keningnya dan sepanjang
lehernya menggodaku untuk
kembali menjilatnya dan kali ini
Lily mengelinjang geli. Namun tak
kuperdulikan. Kujilat habis
seluruh buliran keringat di dahi
dan sepanjang lehernya
menelusuri uratnya kanan dan
kiri yang berkilau tertimpa sinar
lampu dan tanpa terasa
tubuhku yang besar kembali
menindihnya dan sempat
terdiam tatkala kurasakan
batanganku terjepit di atas
perutnya. Senyum penuh rasa
malu berkembang di bibir Lily
tatkala kedutan penis
kuberikan padanya sehingga
jelas terasa di atas perutnya.
Pagutan lidahku kembali
menghisap bibirnya disertai
pilinan jari jemariku yang lincah
bermain di antara kedua
putingnya.
“Mas.. jangan,” pekiknya
terkejut ketika kucoba untuk
memasukkan penisku ke
vaginanya.
“Iya dach.. aku bermain di depan
aja yach,” janjiku
menenangkannya.
“Aku kocok saja yach,”
pintanya tergetar menahan
birahi yang berusaha menerjang
masuk oleh karena ujung kepala
penisku telah berhasil membuka
bibir kemaluannya dan bergesek
di muara vaginanya. Aku
menggeleng tanda tak setuju.
“Tapi jangan dimasukkan yach..
aku ngga mau merusak
perkawinanku dengan Mas
“ndra, aku masih miliknya,”
rintihnya tertahan antara
sadar dan nafsu.
“Aku janji dech,” sahutku
sekenanya oleh karena gesekan
kepala penisku terus
memberikan sensasi nikmat
yang tiada taranya.
Hisapanku pada kedua
putingnya, memaksa puting itu
telah membesar sekitar 2 kali
lipat dari semula, antara
bengkak dan juga rangsangan
yang ada aku tak mempedulikan
itu, namun permainan lidahku di
putingnya membawa
kenikmatan tersendiri sehingga
tanpa ada penolakan lagi yang
kuterima tahu-tahu seluruh
batang penisku telah tertanam
di rongga vaginanya dan ketika
Lily tersadar..
“Mas, kok dimasukkan, tadi
janjinya nggak masuk,”
protesnya dengan nada pasrah.
“Tanggung Li.., aku bener-bener
nggak tahan,” kataku seraya
mulai memompa.
Busyet bener dach otot-otot
vagina Lily, masih sangat
kencang walaupun dia pernah
melahirkan, ototnya masih
kencang sekali akibatnya tentu
nikmat yang kurasakan ini bak
bermain dengan anak ABG saja.
Hal sama juga dirasakan Lily
bahwa dinding vaginanya masih
ketat sehingga ketika aku
memompa, dia juga mengimbangi
dengan goyangan pinggulnya
untuk menekan ke atas, saat
kutusukan masuk sedalam-
dalamnya, dan itu juga
dikombinasikan dengan
kontraksi otot kegelnya yang
sangat baik, sehingga yang
kurasakan dan kunikmati adalah
empotan vagina yang luar biasa.
“rama genjotanku semakin kuat
dan menemukan iramanya
dengan goyangan pinggul Lily,
yang secara mencuri juga
memandang di dinding kaca
sehingga saat ini jelas nampak
tubuh mungilnya timbul
tenggelam di kasur busa
mengikuti hentakan tubuhku.
Buliran keringat sebesar jagung
telah membasahi tubuhku dan
tubuh Lily yang menetes ke
kasur busa dan bantal, seiring
dengan dengus nafasku yang
terus berpacu ditimpali oleh
lenguhan dan rintihan Lily yang
berkejaran.
Semakin lama kurasakan
semakin sempit liang vagina Lily,
sehingga gesekan yang terjadi
semakin mantap dan ketika
kulirik jelas terlihat lipatan bibir
vagina Lily saat ini mengikuti
gerakan penisku, yang jelas
menonjolkan urat darahnya
berwarna kebiru-biruan keluar
masuk laksana mengurut
batang penisku.
Secara refleks sekarang Lily
telah mengangkat secara
maksimal kedua tungkainya ke
atas untuk memaksimalkan
nikmat dunia yang kuberikan
dan kubantu dengan
mengangkat kakinya lebih tinggi
lagi dan meletakkannya
dipundakku.
“Hhh.. hh..,” desisku seraya
menghunjam-hunjamkan penisku
ke dalam liang vaginanya
sedalam mungkin.
“Aak..,” desisan halusnya juga
tak kalah gencarnya mengiringi
tingkatan birahi yang terus
mendaki untuk mencapai
kepuasan tertinggi. Tak lama
kemudian kurasakan rasa
penuh, gatal dan kurasakan
adanya desakan dari dalam
yang akan segera
memuntahkan lahar sperma.
“Ugh.. ahh..,” pekik Lily tak
tertahankan disertai dengan
kejangnya ke dua tungkai
kakinya dan tentu saja jepitan
vagina itu menjadi maksimal
sehingga akupun tidak tahan.
“Lily.. aku.. sampai,” teriakku
tanpa tertahankan disertai
dengan hentakan kuat
menghantam vaginanya.
Crot.. crot.., bendungan lahar
spermaku tak tertahankan lagi
menyembur dengan dahsyatnya
menghantam dinding mulut
rahim Lily. Luluh lantak rasanya
tulang belulang di tubuh,
sehingga tubuh besarku
bagaikan tak bertenaga
ambruk menindih tubuh mungil
Lily. Campuran keringat kami
berdua di atas permukaan kulit
memberikan sensasi tersendiri,
sementara kesadaran kami juga
hilang untuk sesaat.Karyawan Pabrik Ngesex
Antara sadar dan tak sadar
sempat kulihat bayangan “bu
diuar pintu kamar sesaat
sebelum terdengar pintu yang
ditutup, memang tadi pintu itu
tidak tertutup rapat sich.
“Ibu yach?” tanya Lily
memandangku terkejut.
Aku tersenyum dan mengecup
keningnya dan membiarkan
penisku untuk tetap berada di
vagina Lily, sebaliknya Lilypun
membiarkan vaginanya untuk
tetap menampung penisku dan
kamipun tertidur pulas karena
kelelahan.

Tags:
Rate this article!
Cerita Hot Rintihan Kalbu,5 / 5 ( 1votes )

Author: 

author

Related Posts "Cerita Hot Rintihan Kalbu"

Comments are closed.